
harapan dari masa depan
Fandom: under the oak tree
Created: 8/15/2026
Tags
Bayangan Badai dari Masa Depan
Eth Lene, pangkalan militer koalisi yang dingin dan tegang, mendadak diguncang oleh anomali sihir yang belum pernah disaksikan oleh penyihir Menara Dunia mana pun. Di tengah persiapan pasukan koalisi untuk menyerbu sektor naga untuk kedua kalinya, sebuah retakan ruang berwarna perak kebiruan terbuka di tengah lapangan latihan, memuntahkan empat sosok yang mengenakan zirah dengan desain yang jauh lebih efisien dan modern daripada apa yang ada di zaman itu.
Riftan Calypse, yang sedang memeriksa ketajaman pedangnya bersama Ruth Serbel, langsung berdiri tegak. Insting tempurnya berteriak waspada. Para ksatria Remdragon segera membentuk formasi melingkar, menghunus pedang mereka ke arah orang-orang asing tersebut.
"Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa menembus pertahanan sihir tempat ini?" geram Riftan, suaranya rendah dan mengancam. Matanya yang tajam menatap sosok pria muda yang berdiri paling depan.
Pria itu memiliki rambut merah yang menyala, persis seperti warna rambut Maximilian, namun postur tubuhnya, tinggi badannya, dan cara dia memegang gagang pedang adalah cerminan sempurna dari Riftan sendiri. Di sampingnya, seorang gadis cantik dengan rambut hitam legam dan mata abu-abu yang cerdas sedang menepuk-nepuk debu dari jubah sihirnya yang elegan.
"Ayah, kau terlihat jauh lebih muda dan... jauh lebih pemarah daripada yang kuingat," ucap pria berambut merah itu dengan seringai tipis yang sangat familiar bagi para ksatria Remdragon.
"Ayah?" Hebaron Petron berseru, matanya hampir keluar dari kelopaknya. "Riftan, sejak kapan kau punya anak sebesar itu? Dan rambut merah itu... jangan-jangan..."
Maximilian Calypse, yang baru saja keluar dari tenda medis bersama Agnes, membeku di tempat. Dia menatap gadis berambut hitam itu. Wajah gadis itu adalah versi wanita dari Riftan, namun kulitnya putih mulus dan matanya memiliki kelembutan yang sering dilihat Max di cermin.
"Namaku Ares Calypse," pria berambut merah itu melangkah maju, mengabaikan lusinan pedang yang mengarah padanya. "Dan ini adikku, Renaya Calypse. Kami datang dari dua puluh lima tahun di masa depan."
Keheningan yang mencekam menyelimuti lapangan. Ruth Serbel adalah yang pertama bereaksi, dia berlari mendekat dengan rasa ingin tahu yang besar, mengabaikan bahaya. "Time travel? Secara fisik? Teori mana yang kalian gunakan? Apakah ini menggunakan formula sirkulasi mana yang terlarang?"
Renaya, sang gadis penyihir, tersenyum tenang. "Paman Ruth, tolong simpan pertanyaan teknismu untuk nanti. Kita memiliki masalah yang lebih besar. Naga Sektor yang akan kalian lawan... di garis waktu kami, serangan pertama ini berakhir dengan kerugian yang sangat besar karena kurangnya informasi mengenai titik kelemahan regenerasi sisiknya. Kami di sini untuk memastikan hal itu tidak terjadi."
Di dalam tenda pertemuan darurat, suasana masih sangat canggung. Sejuleu Aren menatap pemuda berambut pirang yang berdiri di samping Ares. Pemuda itu, Sylus Aren, memiliki lambang keluarga Aren di zirahnya.
"Jadi kau... anakku?" Sejuleu bertanya dengan nada tidak percaya.
Sylus terkekeh, sikapnya santai dan jenaka. "Ya, Ayah. Dan aku harus mengatakan, kumismu di zaman ini benar-benar mengerikan. Renaya selalu bilang kau terlihat lebih tampan saat sudah tua, tapi sekarang aku ragu."
"Kurang ajar," gumam Sejuleu, tapi ada binar bangga di matanya melihat ketegapan pemuda itu.
Sementara itu, Abelis Ruben, sang Putra Mahkota Wedon dari masa depan, sedang berbicara secara informal dengan Raja Ruben dan Putri Agnes.
"Abel, kau bilang namamu?" Raja Ruben menatap cucunya dengan tatapan menyelidik.
"Ya, Kakek. Dan tolong, jangan menatapku seolah aku akan mencuri mahkotamu. Aku sudah cukup pusing mengurus birokrasi di masa depan," jawab Abelis santai. Dia kemudian menoleh ke arah Ares dan Renaya. "Bisakah kita mulai membahas taktik? Kita tidak punya banyak waktu sebelum gerbang distorsi ini tertutup."
Riftan Calypse masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ares. Dia merasa seperti melihat bayangan dirinya sendiri, namun dengan warna yang berbeda. "Kau bilang kau komandan Remdragon?"
"Sejak usia dua puluh dua tahun," jawab Ares tegas. "Dan aku tidak mendapatkan posisi itu karena namamu, Ayah. Aku mendapatkannya setelah mengalahkan Ursulin, Gabel, dan Hebaron dalam duel berturut-turut."
Hebaron tertawa terbahak-bahak. "Aku suka bocah ini! Dia punya kesombongan yang sama denganmu, Riftan!"
Namun, suasana berubah saat Renaya mulai membentangkan peta sihir yang diproyeksikan dari tangannya. Cahaya biru keluar dari jemarinya, membentuk topografi sektor naga dengan detail yang luar biasa.
"Dengarkan baik-baik," suara Renaya berubah menjadi tegas dan dingin. "Di garis waktu asli, kalian menyerang dari sisi barat. Itu adalah jebakan. Naga itu memiliki kemampuan untuk memanipulasi suhu di bawah tanah. Ursulin, kau akan memimpin pasukan sayap kanan, tapi kau harus menunggu sinyal dariku karena akan ada ledakan gas sulfur di sana."
Ursulin Rycaido tertegun. Gadis itu berbicara dengan otoritas yang bahkan melampaui Riftan dalam hal strategi. "Bagaimana kau tahu aku yang akan memimpin sayap kanan?"
"Karena kau yang mengajariku taktik militer sejak aku berumur lima tahun, Paman Ursulin," jawab Renaya dengan senyum tipis yang mendadak membuat ksatria kaku itu tersipu. "Dan percayalah, kau jauh lebih galak saat mengajariku daripada saat ini."
Keesokan harinya, sebelum pasukan berangkat, Ares menantang Riftan untuk berduel singkat di depan para ksatria. Itu bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan cara Ares untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar mampu bertarung di garis depan.
Dentingan pedang mereka menciptakan gelombang kejut yang membuat debu beterbangan. Gerakan mereka identik—cepat, brutal, dan efisien. Ares bergerak dengan kelincahan yang luar biasa, sementara Riftan memiliki kekuatan murni yang tak tertandingi.
Setelah sepuluh menit pertarungan yang intens, keduanya berakhir dengan pedang di leher masing-masing. Seri.
Riftan menurunkan pedangnya, napasnya sedikit terengah. "Teknikmu... kau memodifikasi gaya bertarung Calypse dengan gerakan yang lebih fleksibel."
"Itu karena Ibu selalu protes kau terlalu kaku saat berlatih," Ares menyeringai, melirik Max yang menonton dengan cemas dari kejauhan.
Riftan menoleh ke arah istrinya, lalu kembali ke putra masa depannya. Untuk pertama kalinya, sebuah senyum tipis muncul di wajah sang Komandan Remdragon. "Baiklah. Aku akan membiarkan kalian bertarung di sisiku."
Pertempuran melawan Naga Sektor pun pecah. Namun, kali ini, jalannya perang sangat berbeda. Renaya berdiri di garis depan bersama para penyihir, tapi dia tidak hanya merapal mantra pelindung. Dia menggunakan pengetahuan masa depannya untuk mendeteksi pergerakan mana naga sebelum naga itu menyerang.
"Sekarang! Tembakkan panah sihir ke arah sendi sayap kiri!" teriak Renaya.
Sylus Aren dan Ares Calypse memimpin kavaleri, menerjang masuk ke celah pertahanan yang terbuka. Koordinasi mereka sempurna, seolah-olah mereka telah bertarung bersama selama puluhan tahun.
"Sylus, jaga sisi kiri! Jangan biarkan monster-monster kecil itu mendekati adikku!" perintah Ares.
"Tenang saja, Ares! Jika Renaya terluka, Ino tidak akan pernah memaafkanku!" balas Sylus sambil menebas kepala monster dengan gerakan akrobatik.
Di tengah kekacauan, Max melihat Renaya yang sedang merapal mantra tingkat tinggi untuk membekukan kaki naga. Hati Max dipenuhi dengan rasa haru yang luar biasa. Gadis itu sangat cantik, sangat berani, dan sangat pintar—semua hal yang pernah Max impikan untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba, seekor monster merayap dari belakang Renaya. Sebelum Max sempat berteriak, Renaya sudah memutar tubuhnya, menghunus belati pendek yang disembunyikan di balik jubahnya, dan menusuk mata monster itu dengan presisi mematikan tanpa menghentikan rapalan mantranya.
"Jangan khawatir, Ibu! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" seru Renaya sambil mengedipkan mata ke arah Max.
Gabel Herlion, yang berada di dekat sana, bergumam takjub, "Demi tujuh dewa... dia lebih menakutkan daripada Komandan saat sedang marah."
Setelah pertempuran yang melelahkan namun berakhir dengan kemenangan gemilang bagi pihak manusia—dengan korban jiwa yang sangat minim dibandingkan garis waktu aslinya—pasukan koalisi kembali ke perkemahan dengan sorak-sorai.
Malam itu, di bawah taburan bintang, Renaya duduk bersama Max di pinggiran tebing yang menghadap ke lembah.
"Jadi... apakah Anatol di masa depan indah?" tanya Max dengan suara lembut.
Renaya menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. "Sangat indah, Ibu. Kau mengubahnya menjadi pusat pengetahuan dan tanaman obat di seluruh Benua Barat. Ayah membangun perpustakaan besar untukmu. Dan ksatria Remdragon... mereka semua menjadi paman-paman yang sangat memanjakanku, meski mereka selalu gemetar jika aku sudah mulai mengeluarkan buku catatan taktikku."
Max tersenyum, air mata kebahagiaan menggenang di matanya. "Aku senang... aku sangat senang kalian tumbuh dengan baik."
"Kami datang ke sini bukan hanya untuk memenangkan perang, Ibu," bisik Renaya. "Kami datang untuk memberitahumu bahwa semua penderitaan yang kau alami sekarang akan membuahkan hasil yang luar biasa. Kau adalah wanita terhebat yang pernah kukenal."
Di sisi lain api unggun, Ares sedang duduk bersama Riftan, berbagi botol minuman keras.
"Kau tahu," Riftan memulai, suaranya serak. "Aku selalu takut tidak bisa menjadi ayah yang baik. Aku takut kegelapanku akan menurun pada anak-anakku."
Ares menatap ayahnya dengan tatapan yang dalam. "Kau memang bukan ayah yang sempurna. Kau terlalu protektif, kau sering berselisih paham denganku soal strategi, dan kau tidak pernah bisa menolak permintaan Ibu atau Renaya. Tapi kau adalah pahlawan bagi kami. Kau mengajari kami bahwa kekuatan bukan untuk menindas, tapi untuk melindungi apa yang berharga."
Riftan menepuk bahu Ares dengan keras, sebuah pengakuan bisu antara dua pria Calypse.
Tiba-tiba, tubuh keempat orang dari masa depan itu mulai berpendar perak. Retakan ruang kembali muncul di belakang mereka.
"Waktu kita sudah habis," kata Abelis Ruben sambil berdiri tegak. "Kakek, Ayah, Bibi Max... pastikan kalian hidup dengan baik agar kami bisa lahir di masa depan yang lebih cerah ini."
Sylus melambai dengan heboh. "Sampai jumpa di masa depan! Dan Ayah, tolong cukur kumis itu secepatnya!"
Renaya memeluk Max untuk terakhir kalinya, lalu berlari ke samping Ares. Sebelum menghilang, dia menoleh ke arah para ksatria Remdragon.
"Paman Hebaron, berhenti mencuri daging di dapur Anatol atau aku akan memberitahu Ibu di masa depan untuk memotong jatah makanmu!" ancam Renaya dengan wajah serius yang sangat menakutkan.
Hebaron seketika membeku, wajahnya pucat pasi. "Bagaimana dia bisa tahu kebiasaanku?!"
Dengan kilatan cahaya yang menyilaukan, keempat sosok itu menghilang, meninggalkan keheningan di perkemahan. Namun, suasana tidak lagi sama. Harapan baru telah tertanam di hati setiap orang.
Riftan berjalan mendekati Max, merangkul bahunya erat-erat. Mereka menatap langit malam yang sama, mengetahui bahwa di suatu tempat di masa depan, anak-anak mereka sedang menunggu mereka.
"Riftan..." bisik Max.
"Ya, Max?"
"Putri kita... dia sangat cantik, bukan?"
Riftan mencium kening istrinya. "Dia persis sepertimu. Tapi syukurlah, dia punya kemampuan untuk membuat Hebaron ketakutan. Itu akan sangat berguna nanti."
Di kejauhan, para ksatria Remdragon mulai berdebat tentang siapa yang akan menjadi paman favorit Renaya dan Ares, sementara Ruth Serbel sibuk mencatat semua sisa energi sihir yang tertinggal, bergumam tentang betapa jeniusnya keponakan masa depannya itu.
Perang belum berakhir, naga-naga lain masih menunggu di kegelapan, tetapi pasukan koalisi kini memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat daripada pedang dan sihir: kepastian bahwa masa depan mereka layak untuk diperjuangkan.
